ASAL MULA TERJADINYA TALAGA PACA*
Pada mulanya, ada seorang gadis yang tinggal di gubuk di tengah hutan. Bersama beberapa keluarga. Jarak rumah mereka saling berjauhan satu dengan yang lain. Sekarang letaknya kira-kira di sebelah barat Desa Paca.
Pada suatu hari, secara tiba-tiba terdengar oleh gadis itu suara yang memanggilnya, “Halo, teman! Siapakah namamu?” Sang gadis menjawab “Nama saya adalah Memeua”.Tiba-tiba Memeua bertanya dalam hatinya, “Siapakan gerangan orang ini?! Sudah sekian lama saya hidup di sini, namun tak seorang lelaki pun yang pernah mendatangi rumah saya”. Pria muda itu mendekati sang gadis sambil mengulurkan tangannya dan berkata, “Maaf, ijinkanlah saya memperkenalkan diri kepada dinda. Nama saya Kobubu, berasal dari suku Galela”.
Setelah perkenalan itu, mereka menjadi sahabat yang akrab. Bahkan selanjutnya mereka menjadi saling menyayangi. Walaupun demikian, hubungan mereka ini masih dilakukan secara diam-diam, di mana Kobubu mendatangi gadis ini pada waktu-waktu tertentu.
Lama-kelamaan, keduanya berkeinginan untuk menikah agar hubungan mereka tidak lagi secara diam-diam dan tersembunyi. Mengingat hari pernikahan mereka sudah dekat, maka Kobubu meminta izin kepada Memeua untuk kembali sebentar ke kampung halamannya. Memeua melepaskan Kobubu dengan senang hati, tetapi Memeua dan orang-orang yang tinggal di tempat itu menyampaikan suatu permintaan. “Pada waktu kakanda nanti kembali ke sini, tolong bawa air telaga secukupnya yang ada di Galela untuk kita pakai, karena di sini sangat susah untuk memperoleh air”.
Sewaktu Kobubu kembali dari Galela, dia tidak lupa membawa pesanan kekasihnya. Dia membawa air satu tipo (seruas bambu).Setiba di gubuk mereka, dia menyerahkan air itu kepada Memeua. Air itu sebagian dituangkannya di belanga sebagian lagi dituangkannya ke dalam tanah yang sudah digali dan ditutupi dengan tempurung.
Keesokan harinya tempurung itu sudah terapung di atas permukaan air. Untuk menghindari kotoran yang masuk ke dalam air, maka Memeua menutupnya dengan daun goro-goro (daun talas). Namun keesokan harinya, daun itu pun sudah terapung di atas air. Kembali pada sore hari menjelang malam Memeua menutup air dengan habongo (tapisan beras). Namun terjadi juga hal yang sama. Habongo ini terapung karena air semakin membesar.
Selanjutnya Memeua menutup air itu dengan tikara (tikar yang terbuat dari daun buho), lalu Memeua dan Kobubu beristirahat. Menjelang pagi, tiba-tiba ayam piaraan mereka berkokok yang menandakan bahwa akan terjadi bencana. Memeua dan Kobubu beserta penduduk di situ sangat terkejut dan ketakutan karena ternyata air dari tempat Memeua semakin melebar dan siap menenggelamkan daerah itu. Semua orang yang ada di situ berusaha lari untuk menyelamatkan diri. Memeua dan Kobubu juga lari tetapi ke arah yang berbeda. Si Memeua lari ke arah tenggara, sedangkan si Kobubu lari ke arah barat laut. Air pun terus mengejar mereka masing-masing, sehingga akhirnya mereka kehabisan tenaga. Karena air ini meluas dengan cepat, akhirnya Memeua memutuskan untuk mengorbankan diri dengan cara berpegang pada batang pohon torobuku dan melakukan proses booteke (proses gaib untuk menyatukan diri dengan pohon). Lalu dia mengucapkan sebuah kalimat, “Batas air cukup sampai di sini saja dan akan mengalir ke Kali Mawea!”. Ternyata air patuh kepada perintah Memeua, sehingga air itu pun berhenti di situ. Hingga saat ini, kita masih bisa melihat batang pohon yang menyatu dengan Memeua. Dulu, bila dipotong, pohon ini mengeluarkan darah. Akan tetapi, sekarang tidak lagi.
Begitu juga dengan Kobubu. Dia tidak berdaya mengatasi perluasan air yang begitu cepat. Oleh karena itu, dia pun memutuskan untuk mengorbankan diri dengan cara menenggelamkan tubuhnya. Tubuh Kobubu menjadi patok atau batas bagian barat dari Talaga Paca. Hingga saat ini, bila dari dalam telaga ini timbul gelembung-gelembung air, maka orang mengatakan bahwa Kobubu sedang mengeluarkan napas. Kadang-kadang, di tengah-tengah telaga terlihat keluar seperti candi, atau gereja, atau pun mesjid, namun kami tidak tahu pasti. Mungkin juga itu adalah kampung yang telah tenggelam ketika air meluas.
*) Diceritakan kembali oleh Junias Ngongadje (Guru SD GMIH Paca) dan dimuat dalam buku kumpulan cerita rakyat Indonesia.



